Laman

Selasa, 27 Maret 2012

Komparasi Teori Pembelajaran : Kekuatan dan Kelemahan

Teori Pembelajaran dan Praktik Desain Pengajaran

Apa perbedaan di antara teori-teori pembelajaran dalam kaitannya dengan praktik desain pengajaran? Apakah satu pendekatan lebih mudah dicapai daripada yang lain? Untuk menunjukkan hal ini, orang mungkin mempertimbangkan bahwa teori kognitif adalah teori yang dominan dalam desain pengajaran dan banyak strategi pengajaran yang dianjurkan dan digunakan oleh para behavioris yang juga digunakan oleh pada kognitivis, tapi untuk alasan yang berbeda. Misalnya, kaum behavioris menilai pada pembelajar menentukan suatu titik berangkat bagi pengajaran, ketika kaum kognitivis melihat pembelajar menentukan kecenderungan mereka terhadap pembelajaran (Ertmer & Newby, 1993). Dengan mengingat hal ini, praktik desain pengajaran bisa dipandang dari pendekatan behavioris / kognitivis sebagai lawan dari pendekatan konstruktivis.
Ketika mendesain dari sudut pandang behavioris / kognitivis, desainer menganalisis suatu dan membentuk satu tujuan. Tugas individu adalah menguraikannya dan sasaran pembelajaran pun dikembangkan. Evaluasi terdiri dari penentuan apakah kriteria bagi sasaran itu telah sesuai atau tidak. Dalam pendekatan ini, desainer memutuskan apa yang penting untuk diketahui pembelajar dan berusaha mentransfer pengetahuan tersebut kepada sang pembelajar. Kemasan pembelajaran merupakan satu sistem yang agak tertutup, meski mungkin terjadi beberapa percabangan dan perbaikan, sang pembelajar masih terbatasi dengan “dunia” desainer.
Mendesain dari pendekatan konstruktivis mengharuskan desainer menghasilkan sebuah produk yang pada hakikatnya jauh lebih fasilitatif daripada preskriptif (kaku atau tidak fleksibel). Muatannya pun tidak ditetapkan sebelumnya, sedangkan arahannya ditentukan oleh pembelajar dan penilaiannya jauh lebih subjektif karena ia tidak tergantung pada kriteria kuantitatif yang spesifik, tapi lebih tergantung pada proses dan evaluasi diri sang pembelajar. Tes tertulis standar terhadap pembelajaran keunggulan tidak digunakan dalam desain konstruktif, malahan, evaluasi didasarkan pada catatan-catatn, draf awal, produk akhir, dan jurnal.

 Disebabkan karena hakikat pembelajaran konstruktif yang subjektif dan berbeda, akan lebih mudah bagi seorang desainer untuk bekerja dengan sistem tersebut, dan dengan demikian menjadi pendekatan objektif bagi desain pengajaran. Hal itu bukan berarti bahwa teknik desain pengajaran klasik lebih baik daripada desain konstruktif, tapi ia lebih mudah, lebih hemat waktu, dan kemungkinan besar kurang mahal untuk mendesain dalam suatu “sistem tertutup” daripada pada sistem “terbuka”. Mungkin, ada beberapa kebenaran dalam pernyataan bahwa, “Konstruktivisme adalah sebuah ‘teori pembelajaran’, lebih dari sekedar pendekatan pengajaran” (Wilkinson, 1995).

Teori-Teori Pembelajaran : Kekuatan dan Kelemahan
Kekuatan dan kelemahan apa yang dirasakan selama menggunakan pendekatan teoritis tertentu dalam desain pengajaran ?
1.      Behaviorisme
Kelemahan
§  Pembelajar mungkin menemukan dalam sebuah situasi di mana stimulus bagi respons yang benar tidak terjadi, karenanya pembelajar tidak bisa menanggapinya.
§  Seorang pekerja yang telah dikondisikan untuk menanggapi sebuah isyarat tertentu pada saat pekerjaan berhenti berproduksi ketika sebuah anomali terjadi karena mereka tidka memahami sistem tersebut.
Kekuatan
§  Pembelajar difokuskan pada sebuah tujuan yang jelas dan bisa menanggapi secara automatis segala isyarat dari tujuan tersebut.
§  Pilot Perang Dunia II dikondisikan untuk bereaksi terhadap siluet pesawat musuh, sebuah respons yang orang akan harpa menjadi automatis.

2.      Kognitivisme
Kelemahan
§  Pembelajar mempelajari sebuah cara menyelesaikan sebuah tugas, tapi ia mungkin tidak menjadi cara terbaik, atau disesuaikan dengan pembelajar tersebut atau situasinya. Misalnya login ke intenret pada satu komputer mungkin tidak sama seperti login pada komputer yang lain.
Kekuatan
§  Tujuan adalah melatih pembelajar untuk melakukan sebuah tugas dengan cara yang sama dengan memampukan konsistensi.
§  Melakukan login dan kemudian keluar pada komputer kerja adalah sama bagi semua pegawai, mungkin yang penting adalah menjalankan kerutinan yang pasti untuk menghindari masalah.

3.      Konstruktivisme
Kelemahan
§  Dalam sebuah situasi dimana kesesuaian adalah pemikiran dan aksi esensial yang berbeda mungkin menyebabkan masalah. Membayangkan bersenang ria di Revenue Canda jika setiap orang memutuskan untuk melaporkan pajak-pajak mereka dalam cara mereka sendiri, meskipun kemungkinan ada beberapa pendekatan “konstruktif”: yang digunakan dalam sistem yang kita punyai.
Kekuatan
§  Karena pembelajar mampu menafsirkan realitas-realitas ganda, pembelajar menjadi mampu dengan lebih baik menghadapi situasi kehidupan nyata. Jika seorang pembelajar bisa menyelesiakan masalah, mereka mungkin menggunakan pengetahuan yang mereka punyai dengan lebih baik bagi sebuah situasi baru (Schuman, 1996).

TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
1.      Pandangan Behavioristik dan Konstruktivistik tentang Belajar
BEHAVIORISTIK
KONSTRUKTIVISTIK
Behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah objektif, pasti dan tetap, serta tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi.
Konstruktivistik memandang bahwa pengetahuan adalah tidak objektif, bersifat temporer, selalu berubah-ubah dan tidak menentu.
Belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan kepada orang yang belajar
Belajar adalah menyusun pengetahuan dari pengalaman konkret, aktivitas kolaborasi, dan refleksi seta interpretasi. Sedangkan mengajar menata lingkungan agar sang pembelajar termotivasi dalam menggali dan menghargai ketidakmenentuan.
Sang pembelajar diharpakan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya apa yang dipahami oleh pengajar itulah yang harus dipahami oleh sang pembelajar.
Sang pembelajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya dan perspektif yang dipakai dalam mengintrospeksikan nya.


2.      Pandangan Behavioristik dan Konstruktivistik tentang Tujuan Pembelajaran
BEHAVIORISTIK
KONSTRUKTIVISTIK
Tujuan pembelajaran ditentukan tentang penambahan pengetahuan
Tujuan pembelajaran ditentukan tentang bagaimana belajar


3.      Pandangan Behavioristik dan Konstruktivistik tentang Strategi Pembelajaran
BEHAVIORISTIK
KONSTRUKTIVISTIK
Penyajian isi menekankan pada ketrampilan yang terisolasi dan mengakumulasi fakta dengan mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan
Penyajian isi menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna mengikuti urutan dari keseluruhan ke bagian
Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat
Pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni atau melayani pertanyaan dan pandangan sang pembelajar
Aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks dan penekanan pada ketrampilan
Aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada data primer dan bahan manipulatif dengan penekanan pada keterampilan berpikir kritis
Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil
Pembelajaran menekankan pada proses


4.      Pandangan Behavioristik dan Konstruktivistik tentang Strategi Evaluasi
BEHAVIORISTIK
KONSTRUKTIVISTIK
Evaluasi menekankan pada respons pasif. Ketrampilan secara terpisah dan biasanya menggunakan tes tertulis
Evaluasi menekankan pada penyusunan makna secara aktif yang melibatkan ketrampilan terintegrasi, dengan menggunakan masalah dalam konteks nyata
Evaluasi dengan menuntut jawaban benar menunjukkan bahwa sang pembelajar telah menyelesaikan tugas belajar
Evaluasi dengan menggali dan berpikir secara berbeda, pemecahan ganda, bukan hanya jawaban benar
Evaluasi belajar dipandang sebagai bagian terpisah dari kegiatan pembelajaran dan biasanya dilakukan setelah kegiatan belajar dengan penekanan pada evaluasi individu
Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar dengan cara memberikan tugas-tugas yang menuntut aktivitas belajar bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata. Evaluasi akan menekankan pada keterampilan dan proses dalam kelompok


Teori Belajar Klasik
Teori belajar klasik didasarkan pada pemikiran para filosofis yang bersifat subjektif :
1.      Teori disiplin mental / psikologi fakultas / psikologi unsur
Belajar melalui introspeksi otak manusia yang terdiri atas bagian-bagian yang memiliki tugas berbeda (berpikir, meraba, fantasi, perasaan, kehendak). Jiwa manusia terdiri dari unsur-unsur tertentu dan unsur-unsur tersebut disebut dengan daya-daya jiwa. Orang akan dapat belajar jika mentalnya dilatih dengan kjeras terutama daya nalarnya dan selanjutnya belajar identik dengan mengasah otak. Pandangan klasik : orang pintar adalah orang yang menguasai ilmu pasti (logis matematik dan logis bahasa).

2.      Teori humanisme klasik / naturalisme
Teori humanisme klasik diajukan oleh Maslow, sedangkan naturalisme dikembangkan oleh J.J Rousseau dan Pestalzzi.
§   Ia mengumpulkan biografi orang-orang terkenal dari berbagai bidang.
§   Semua orang normal berpotensi menjadi orang hebat.
§   Manusia sebagai satu kepribadian yang utuh, dan dalam jiwa mnausia ada tiga aspek, yaitu afektif, kognitif dan psikomotor.
§   Naturalisme oleh J.J Rousseau mengatakan bahw aanak pada waktu lahir adalah baik, jika anak rusak itu akibat pengaruh lingkungan. Karena pada waktu itu moral manusia pada level yang terpuruk.
§   Belajar adlah membiarkan anak utmbuh dan berkembang dengan sendirinya secara alamiah dan tidak diapa-apakan.
§   Freedom to learn berarti “membiarkan anak belajar dengan bebas, karena orang dapat mengaktualisasikan dirinya secara penuh jika orang tersebut tidak diganggu.”

3.      Teori apersepsi dan teori tabularasa / empirisme
§   Otak manusia seperti wadah yang siap menampung apa saja dan pengetahuan yang telah masuk tersebut disebut apersepsi.
§   Teori tabularasa / empirisme yang dilontarkan oleh John Lock menyatakan bahwa “Anak bagaikan kertas kosong yang siap ditulis oleh pendidik dan linkgungan yang mempunyai pengaruh terhadap anak itu nantinya.

TAKSONOMI DOMAIN PSIKOMOTOR
Ada tiga taksonomi utama domain psikomotor, yaitu sebagai beriktu :
1.      Apa yang dilontarkan oleh R. Dave dalam karyanya Psychomotor Domain  (1967)
Tingkat
Definisi
Kata Kerja yang Memungkinkan
Mengimitasi
Mengamati sebuah keterampilan dan berusaha mengulanginya atau melihat sebuah produk yang terelesaikan dan berusaha untuk menirunya ketika hadir dalam bentuk contoh
Berusaha, menyalin, men duplikasi, mengimitasi, meniru-niru dan seterusnya
Memanipulasi
Memainkan keterampilan atau menghasilkan produk dalam suatu mode yang bisa diakui dengan mengikuti pengajaran-pengajaran umum daripada pengamatan
Menyelesaikan, mengikuti, memainkan, melaksana-kan, menghasilkan dan seterusnya
Presisi
Secara independen memainkan ketrampilan atau menghasilkan sebuah produk dengan akurasi, proporsi, dan kepastian pada suatu tingkatan yang ahli
Mencapai secara automatis, mengatasi dengan ahli, memainkan dengan bagus sekali
Artikulasi
Memodifikasi ketrampilan atau produk untuk menye-suaikan dengan situasi baru, mengombinasikan lebih dari satu ketrampilan dalam rangkaian dengan harmoni dan konsistensi
Mengadaptasi, mengubah, mengarah pada kondisi yang lebih baik, memulai dan seterusnya
Naturalisasi
Menyelesaikan satu keterampilan atau lebih dengan mengurangi dan membuat ketrampilan automatis dengan penggunaan fisik atau mental yang terbatas
Secara natural, secara sempurna dan seterusnya

2.      Apa yang dinyatakan E. Simpson dalam karyanya , The Classification of Educational Objectives in The Psychomotor Domain : The Psychomotor Domain (1972)
Tingkat
Definisi
Kata Kerja yang Memungkinkan
Perspesi
Kemampuan untuk meng-gunakan isyarat sensoris untuk memandu aktivitas fisik
Membedakan, mengiden-tifikasi, menyeleksi dan seterusnya
Perangkat
Kesiapan untuk bertindak, mengharuskan pembelajar mendemonstrasikan sebuah kesadaran atau pengetahuan tentang perilaku yang dibutuhkan untuk menggunakan ketrampilan
Mengasumsikan sebuah posisi, mendemonstrasikan menunjukkan, dan seterusnya
Memandu Respons
Tahapan awal pembelaja-ran ketrampilan yang kompleks, memasukkan imitasi, bisa menyelesaikan langkah-langkah yang terlibat dalam ketrampilan sebagaimana yang diarahkan
Berusaha, mengimitasi, mencoba dan seterusnya
Mekanisme
Kemampuan untuk melakukan suatu ketrampi-lan motoris yang komplek, tahpaan pembelajaran lanjutan sebuah ketrampilan yang kompleks

Respons kompleks yang jelas
Kemampuan untuk menggunakan ketrampilan psikomotor yang komplet secara benar
Menyelesaikan, mengope-rasikan, melaksanakan dan seterusnya
Adaptasi
Bisa memodifikasi ketrampilan motoris agar sesuai dengan sebuah situasi baru
Mengadaptasi, memodifikasi, merevisi dan sterusnya
Mencipta
Kemampuan mengembang kan sebuah ketrampilan asli yang menggantikan ketrampilan seperti yang pada awalnya dipelajari
Menciptakan, mendesain, memulai sesuatu, dan seterusnya

3.      Apa yang digambarkan A. Harrow, dalam karyanya A Taxonomy of The Psychomotor Domain : A Guide for Developing Behavioral Objectives (1972)
Tingkat
Definisi
Kata Kerja yang Memungkinkan
Gerakan relfeks
Refleks segmental, inter-segmental, dan supra-segmental
Menanggapi, dan seterusnya
Gerakan fundamental dasar
Gerakan lokomotor, gerakan non-lokomotor dan gerakan manipulatif

Kemampuan perseptual
Kemampuan kinestetik, visual, audio, dan diskriminasi nyata serta kemampuan terkoordinasi

Kemampuan fisik
Daya tahan, kekuatan, fleksibilitas, & ketangkasan

Gerakan terampil
Keterampilan sederhana, gabungan, dan ketrampilan adaptif yang kompleks
Memasang, menyesuaikan mengonstruksi, membedah dan seterusnya
Komunikasi nondiskursif.
Gerakan ekspresif dan interpretif.
Menyusun, menciptakan, menggubah, mendesain, memulai sesuatu, dan seterusnya.

Keseluruhan materi disarikan dari buku sumber :

Mark K Smith, dkk. (2010). Teori Pembelajaran & Pengajaran. Jogjakarta : Mirza Media Pustaka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar